Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat

BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Raja Ampat

Bintang Laut Berduri

Pendekatan pemangku untuk Pengelolaan

Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Kepulauan Raja Ampat bertujuan untuk bekerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan lokal untuk menanggulangi ledakan populasi bintang laut berduri melalui pemusnahan dan pemantauan terkendali.

Bintang laut berduri adalah salah satu biota laut yang endemis terumbu karang di kawasan Indo-Pasifik, dan merupakan salah satu bintang laut terbesar di dunia yang dapat tumbuh hingga diameter 1 meter. 

 

Bintang laut berduri tersebar luas di seluruh Indo-Pasifik, dan juga ada di Raja Ampat. Bintang laut berduri memakan karang keras, dan hanya memiliki sedikit predator alami (kerang triton terompet, ikan buntal, ikan landak dan ikan napoleon). 

 

Bintang laut berduri dewasa dapat memakan karang hingga 1 meter persegi per minggu. Hewan ini tumbuh dengan cepat, dan berkembang biak ketika mereka memasuki usia 2 hingga 3 tahun, dan setiap betinanya mampu menghasilkan hingga 60 juta telur selama satu musim pemijahan.

Pada terumbu karang yang sehat yang ekosistemnya seimbang, bintang laut berduri memiliki peranan penting dalam keseimbangan itu dengan memangsa jenis terumbu karang yang tumbuh lebih cepat untuk menciptakan ruang bagi jenis terumbu karang lainnya yang tumbuh lebih lambat, dan memungkinkan mereka untuk membentuk koloni yang lebih besar.

Namun, ketika ekosistem menjadi tidak seimbang dan kepadatan bintang laut berduri meningkat ke titik di mana terumbu karang tidak dapat pulih dari tingkat predasi, bintang laut berduri dianggap sebagai ‘hama’ yang kemudian menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan terumbu karang secara keseluruhan.

 

Meskipun banyak terumbu karang di Raja Ampat yang masih sehat, namun sayangnya terdapat lokasi yang diketahui dimana bintang laut berduri dianggap telah berada pada tingkat ‘ledakan populasi’ dan dan mesti diperhatikan dengan serius.

Biasanya para ilmuwan menghubungkan ledakan populasi bintang laut berduri dengan lonjakan nutrisi yang disebabkan oleh air limpasan dari pesisir dan pertanian, termasuk limpasan air limbah. Namun, dalam beberapa kasus, misalnya di lokasi terumbu karang yang terpencil, penyebab wabah masih belum diketahui.

 

Di Raja Ampat, penyebab di balik wabah saat belum sepenuhnya jelas. Mengingat dampak perubahan iklim dan ancaman yang terus meningkat yang berkontribusi terhadap kerusakan terumbu karang di seluruh dunia, adalah penting bahwa Raja Ampat, salah satu ‘benteng’ terumbu karang terakhir yang tersisa di Bumi, dilindungi dari bahaya tambahan yang ditimbulkan bintang laut berduri .

Mengapa kolaborasi sangat penting untuk kesuksesan:

Kawasan konservasi perairan di Raja Ampat terdiri dari lebih dari 2 juta hektar perairan dengan sistem terumbu karang yang rumit, dengan keseluruhan luas Kabupaten Raja Ampat yang lebih dari 4 juta hektar.

 

Tidak ada satu organisasipun yang dapat secara efektif memantau populasi dan kepadatan bintang laut berduridalam skala yang sedemikian besar, sehingga BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat berharap bahwa semua pemangku kepentingan seperti resor, homestay,liveaboard, masyarakat lokal, organisasi non-pemerintah dan pemerintah daerah dapat berpartisipasi secara kolaboratif untuk mengendalikan populasi bintang laut berduri .

Mengingat bahwa semua mata pencaharian di Raja Ampat bergantung pada kondisi terumbu karang yang sehat dan berkelanjutan, adalah penting bagi semua pemangku kepentingan untuk bertanggungjawab dan berkontribusi dalam pengelolaan bintang laut berduridi Raja Ampat.

 

Kami mendorong semua pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam upaya-upaya pengawasan dan pengelolaan bintang laut berduri di KKP Kepulauan Raja Ampat, secara aktif dan teratur dalam melakukan pengendalian bintang laut berduri(baik itu pemusnahan dan/atau pembersihan) dan mencatat informasi ini dalam Laporan Resmi.

Jika Anda menyelam atau snorkeling di Raja Ampat dan melihat bintang laut berduri, kami secara aktif mendorong Anda untuk mencatat temuan Anda di Laporan Resmi.

 

Dengan berkolaborasi, kita memiliki peluang lebih besar untuk berhasil. Melalui pendekatan kolaboratif antar-pemangku kepentingan, maka kita dapat memberikan respon pengelolaan yang efektif bagi kesehatan terumbu karang di Raja Ampat dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung padanya.