Seperti di tempat lain di Indonesia, Raja Ampat merupakan rumah bagi beragam manusia. Masyarakat di Raja Ampat merupakan tempat ‘berkumpul’ dari budaya asli masyarakat setempat, migran domestik dan internasional dari berbagai latar belakang budaya, geografis, dan sejarah yang berbeda.
Praktik migrasi yang telah berlangsung selama berabad-abad di Raja Ampat menyebabkan perkembangan berbagai kelompok etnis dan praktik budaya melalui proses asimilasi yang terjadi. Saat ini, Raja Ampat terdiri dari 1411 pulau besar dan kecil, yang sebagian penghuninya memiliki leluhur dari daerah lain di Papua maupun Indonesia. Proses asimilasi tersebut ‘menghasilkan’ karakteristik khas yang dapat dijumpai di setiap kampung, meskipun terdapat juga perbedaan – yang juga khas – seperti bahasa daerah berikut dialeknya yang berbeda dari satu kampung dengan kampung lainnya.
Raja Ampat pertama kali dihuni oleh orang Melanesia antara 60.000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Migrasi lokal di Raja Ampat terjadi, yang diikuti oleh pembangunan pemukiman-pemukiman permanen di pulau-pulau tertentu yang menyebabkan munculnya kelompok etnis yang berbeda.
Gelombang migrasi yang terjadi selama ribuan tahun di Raja Ampat menyiratkan perpaduan budaya dan masyarakatnya, proses perpindahan dan permukiman, isolasi dan aksesibilitas, yang hasil dari kesemuanya dapat ditemukan melalui bahasa daerah berikut dialek dan tonemnya yang beragam.
Bahasa resmi di Raja Ampat adalah Bahasa Indonesia. Namun di kampung-kampung, terutama antara orang dewasa maupun orang tua, bahasa daerah berikut dialek lokalnya masih dipergunakan.
Sumber: Ethnologue, Papua Web, Word-Prosodic systems of Raja Ampat anguages
Kepercayaan yang dianut para pedagang, misionaris, dan pendatang pada zaman dahulu pada akhirnya memengaruhi masyarakat di Raja Ampat secara keseluruhan. Sekarang Nasrani dan Islam dipeluk oleh banyak orang di pulau-pulau di Raja Ampat, dan menjadikan tempat-tempat ibadah sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat.
Sebagian masyarakat asli Raja Ampat juga masih mempraktikkan seluruh atau sebagian kepercayaan animisme yang lazim dipeluk sebelum kedatangan Nasrani maupun Islam. Kepercayaan ini memercayai bahwa alam berikut simbol-simbolnya yang relevan sebagai bagian besar dari spiritualisme mereka.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Masyarakat Lokal, pengunjung harus memerhatikan, mempertimbangkan, dan menghormati praktik keagamaan setempat, terkhusus berkaitan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan
Makanan pokok tradisional di Raja Ampat adalah “Papeda” yang diolah dari sagu. Migrasi puluhan tahun dan juga dampak dari kebijakan nasional juga menjadikan beras sebagai makanan pokok. Selain hidangan pokok, hidangan penutup seperti sagu manis dan kue-kue rumahan biasa diolah oleh masyarakat di Raja Ampat.
Mayoritas sumber protein di Raja Ampat berasal dari ikan. Namun, dengan meningkatnya lalu lintas antara Raja Ampat dengan Sorong, ayam, tempe dan tahu juga sekarang lazim dikonsumsi. Selain itu, di beberapa pulau besar babi hutan juga biasa diburu untuk dikonsumsi oleh sebagian masyarakat lokal.
Selain nelayan, sebagian masyarakat di Raja Ampat juga merupakan petani musiman yang menghasilkan beragam sayur mayur dari kebun yang diolahnya. Buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, dan kelapa – bersesuaian dengan musimnya – adalah hasil alam lainnya yang biasa diperoleh masyarakat di Raja Ampat.