KKP Teluk Mayalabit 

49.451 hectares 

Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Teluk Mayalibit memiliki luas 49.451 hektar dan hampir membagi Pulau Waigeo menjadi dua bagian. Teluk Mayalibit memiliki hutan bakau dan habitat lamun yang luas, dengan penyebaran lamun sepanjang 70 m dari tepi hutan bakau hingga ke pantai.

Meskipun persentase karang keras relatif kecil, Teluk Mayalibit memiliki potensi besar sebagai daerah pertumbuhan untuk ikan-ikan yang bernilai ekonomis tinggi seperti makarel (Scombridae), samandar (Siganidae), udang, bubara (Carangidae), kakap (Lutjanidae) dan kepiting lumpur (Scylla).

Komoditas utama di Teluk Mayalibit adalah makarel (Rastrelliger sp.) dan udang kering. Hampir semua ikan makarel yang dikonsumsi di Raja Ampat berasal dari Teluk Mayalibit, dan hasil studi menegaskan bahwa areal perairan di sekitar mulut teluk merupakan tempat bertelur yang penting bagi spesies ini.

Untuk memperkuat pengelolaan sumber daya perikanan di Teluk Mayalibit, masyarakat yang didampingi oleh Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat dan organisasi nirlaba seperti Conservation International (CI) dan RARE mengembangkan inisiatif Kawasan Perikanan Adat (KPA).

Secara sederhana, KPA merupakan inisiatif yang menyepakati hak-hak pemanfaatan sumber daya perikanan di Teluk Mayalibit berdasarkan wilayah adat dari masing-masing kampung atau dusun. Dalam praktiknya, pengelolaan dan pengawasan dari KPA merupakan tanggung jawab dari masing-masing kampung dan dusun yang dibantu oleh BLUD UPTD Pengelolaan KKP Kepulauan Raja Ampat.

Teluk Mayalibit dipercayai sebagai daerah asal-muasal Suku Maya, suku asli dari Raja Ampat, yang masih mendiami pemukiman-pemukiman mulai dari Kampung Yensner, Mumes, Warsambin, Lopintol, Kalitoko, Warimak, Waifoi, Go, Kabilol, Beo, Arway, dan Dusun Wegalas.

Secara administratif, Teluk Mayalibit dibagi menjadi dua, yaitu Distrik Teluk Mayalibit yang dihuni oleh 776 jiwa dan Tiplol Mayalibit yang didiami oleh 852 jiwa (Badan Pusat Statistik Kabupaten Raja Ampat, 2017).

Teluk Mayalabit adalah kawasan konservasi perairan pertama yang disepakati di Raja Ampat. Pada 15 November 2006, masyarakat Teluk Mayalibit melakukan deklarasi adat di desa Waifoi, dan menyerahkan mandat pengelolaan kepada pemerintah Raja Ampat untuk dikelola secara berkelanjutan.

Deklarasi adat pada tahun 2006 tersebut kemudian diikuti oleh deklarasi di tingkat kabupaten oleh bupati Raja Ampat pada saat itu, Drs. Marcus Wanma., M.Si., yang mendukung pembentukan kawasan konservasi dengan luas 53.100 hektar di Teluk Mayalibit, bersama-sama dengan lima kawasan lainnya, yaitu Kepulauan Misool, Kepulauan Kofiau-Boo, Selat Dampier, Wayag (sekarang bernama Suaka Alam Perairan Waigeo Sebelah Barat), serta Kepulauan Asia dan Ayau. 

Deklarasi di tingkat kabupaten segera ditindaklanjuti dengan surat keputusan bupati pada tahun 2007, yang lalu diperkuat melalui peraturan daerah pada tahun 2008, sebelum akhirnya status hukum KKP di Raja Ampat ditetapkan secara nasional melalui keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan pada tahun 2014. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut sedang dalam proses revisi karena adanya KKP baru, yaitu Kepulauan Fam dan Misool Utara.

Zonasi di KKP Teluk Mayalabit  

Klik Peta untuk meluaskan, dan lihat Legenda di bawah ini

Zoning Raja Ampat Marine Park

Tabel di bawah ini memberikan gambaran umum tentang beberapa kegiatan yang lazim terjadi di dalam Kawasan Konservasi Perairan (KKP). 
Until penjelasan terperinci mengenai semua kegiatan yang diatur di dalam Peraturan Zonasi, silakan lihat Tabel 14, halaman 48-51 dari dokumen Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat 2019-2038.

Klik tabel untuk memperluas

Raja Ampat Marine Park Zoning

Copyright © BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat