Kawasan Konservasi Perairan di Raja Ampat

Sosialisasi RAMS dan Persiapan Pemasangan Mooring Buoy di Kepulauan Fam

RAMS (Raja Ampat Mooring System kapal) merupakan suatu sistem tambat wisata guna mendukung upaya-upaya perlindungan habitat dan lingkungan laut yang rentan, yaitu dengan cara mengurangi kebutuhan untuk membuang jangkar, sekaligus meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi kapal-kapal yang berkunjung ke wilayah KKP di Raja Ampat.

Sebagai tindak lanjut pemasangan dua mooring buoy yang berlangsung 7-8 Juni 2024 lalu, BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat bersama Pokja RAMS melaksanakan kegiatan Sosialisasi RAMS dan Persiapan Pemasangan Mooring Buoy di Kepulauan Fam pada Senin, 03 November 2025 lalu. Kegiatan yang berlangsung di Balai Pertemuan KUPP, Kampung Pam, Waigeo Barat Kepulauan ini dihadiri oleh tokoh adat, aparat kampung, pengelola homestay, pemandu wisata, pengelola geosite yang merupakan perwakilan dari tiga kampung di Kepulauan Fam, yaitu Kampung Pam, Saukabu, Saupapir dan masyarakat setempat.

Menurut Kepala BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat, Syafri, Sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan kawasan konservasi laut secara berkelanjutan melalui RAMS, dengan fokus utama penyediaan dan pengelolaan tambatan kapal ramah lingkungan (Mooring Buoy).

“Ini merupakan tindak lanjut dari pemasangan perdana dua mooring percontohan yang dipasang di perairan sekitar kampung Friwen yang kemudian nantinya akan dilanjutkan di kepulauan Fam, yang juga mempertimbangkan masukan dari masyarakat setempat”. ujar Meidiarti Kasmidi, Konservasi Indonesia, Manajer Program Raja Ampat”,

Di samping itu Zeth Sauyai selaku pengelola geosite mengatakan bahwa “tentunya sebagai pengelola geosite piaynemo kami sangat mengapresiasi. Karena selama ini kita menganggap bahwa konservasi adalah bagian dari menjaga sumber daya alam berkelanjutan karena itu sosialisasi ini sangat penting bagi kami sebagai pengelola geosite, harapan kami kedepan harus ada tindak lanjut pemasangan mooring, kemudian bisa diterapkan di wilayah-wilayah yang ada di perairan sekitar kepulauan Piaynemo dan Kepulauan Fam”.

Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Distrik Navigasi Tipe A Kelas 1 Sorong, terdapat delapan titik yang telah dipasang untuk pemasangan mooring buoy di Kepulauan Fam. Dan pada saat diskusi berlangsung, masyarakat juga merekomendasikan tiga titik tambahan, sehingga total rencana pemasangan mencapai sebelas titik dan rencana pemasangannya akan dilaksanakan pada minggu ke dua di bulan Desember 2025 ini.

Dari pihak masyarakat, Kepala Kampung Saukabu, Ariel Fakdawer, menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap program ini dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga setempat.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini karena memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan laut. Semoga program ini berjalan dengan lancar dan membawa manfaat, khususnya perekonomian bagi seluruh warga Kepulauan Fam,” ucapnya.

Di wawancara terpisah, Rice Sauyai sebagai pengelola homestay berpendapat “Saya sangat bangga dengan adanya Konservasi Indonesia bekerja sama dengan BLUD UPTD KKP Kepulauan Raja Ampat sehingga kami dapat menjalankan usaha kami dengan baik. Disisi lain beberapa kasus terkait kerusakan karang akibat kandasnya kapal sangat membekukan, harapanya melalui pengadaan RAMS ini kami punya harapan bisa melindungi laut dan ekosistemnya sehingga dapat mendatangkan tamu yang begitu banyak lagi di tempat-tempat usaha kami yaitu homestay”.

Kegiatan ini dinilai sangat penting sebagai bagaian dari upaya mencegah kerusakan kapal terumbu karang akibat lego jangkar. Kedepannya kolaborasi dalam pengelolaan dan pemeliharaan mooring dapat dilaksanakan dengan pelibatan masyarakat.

Related News